Kamis, 27 November 2014

Dalam Diam

Dalam diam, aku menangis.
Dalam diam, aku merasakan sakit.
Dalam diam, aku berdusta kepada diriku sendiri.
Bayang-bayangmu bersama orang lain selalu di pikiranku, menghantuiku setiap saat, setiap waktu.
Entah mengapa Allah memberikan ini semua kepadaku?

Ingin rasanya aku menjerit, berteriak, dan menangis agar Allah mengerti, betapa sedih dan terpuruknya diriku.
Sungguh, aku tak mengerti, aku tak paham.
Seperti ada batu karang yang tumbuh di dalam danau..
Seperti ada duri yang tumbuh di permukaan kulit..
Kehidupan tenangku terganggu oleh sebuah nelangsa..
Seperti tersambar petir yang datang bertubi-tubi..
Saat aku ingat dengan jelas akan hal itu…
Jiwa ini terasa tidak sejajar lagi dengan raga..
Hati ini tidak lagi sejajar dengan logika..

Aku ingin tenang seperti gurun pasir, meskipun banyak kaktus tumbuh dan angin berhembus, tetap  terlihat tenang..
Ya Allah.. Engkaulah yang mengetahui betapa sayang dan cintanya aku kepada dirinya.
Ya Allah.. Engkaulah yang mengetahui betapa besar harapanku kepadanya.
Sampai kapan aku harus berada dalam bayang-bayang mimpi buruk yang tiada akhir ini?
Disaat orang yang aku cintai dan aku sayangi sedang menikmati mimpi indah dan saling bertukar rasa sayang dan rindu kepada lelaki lain, lelaki yang sudah merenggut kebahagiaanku bersamanya.