Jumat, 11 September 2015

Sebuah Persembahan

Sesuatu yang sudah aku persiapkaan untuknya. Sesuatu yang sudah ia tunggu dari bulan Februari lalu. Sesuatu yang akan ia terima yang bahkan dia sendiri tidak tahu kapan.  Aku  masih merahasiakannya sampai saat ini. Sesuatu tersebut ditentukan oleh dirinya sendiri. Jika baik, maka baik, begitupun sebaliknya. Selama itu aku terus mengamatinya dan sekarang sudah sampai keputusannya. Semoga ia menyukainya. Akan aku perbarui tulisan ini jika “sesuatu” tersebut sudah aku berikan kepada dia.



Sabtu, 05 September 2015

Nada Dalam Prosa Kita

Oleh Mbeeer



Sayang,
Dulu kita hanyalah sebuah kata.
Yang tercipta terpisah, 
tanpa pernah ada niatan untuk dapat hidup bersama.
Lalu kemudian datang suatu kebetulan 
dimana kita dipertemukan dalam sebuah paragraf prosa.

Saling saut-menyaut antara perasaan masing-masing.
Saling mengidolakan antara satu, dan yg lain.
Hingga tak lama kemudian, 
Cinta tumbuh diantara sela-sela hati kita. 
Perlahan membesar dan terus membesar.
Memberi sealun nada di kehidupan baru kita.

Sayang,
Kita adalah sebuah Lagu.
Aku dan Kamu Lirik-nya.
Sedangkan cinta adalah nada pengiringnya.

Kita terus dinyanyikan saat itu.
Dari siang, 
hingga menjemput malam.
Dari masalah, 
hingga terselip sebuah senyuman.
Dari berjalan, 
hingga berharap untuk mampu menyerah.
Kita adalah sebuah symphony yang terus-menerus dialunkan.

Kemudian,
datang suatu hari dimana nada dipaksa pergi meninggalkan kita. 
Memisahkan aku dan kamu kembali menjadi sebuah kata.

Dengan sulitnya rasa ikhlas,
Aku berusaha mengumpulkan kamu lagi disetiap harinya.
berharap bakal ada suatu nada hinggap diantara kita lagi.
Walau hari itu, 
hingga kinipun tak kunjung menghampiri.

Hingga pada akhirnya, Sayang.
Sudah terlalu banyak kamu dalam aku.
Sudah terlalu banyak rindu dalam sendu.

Kamu sudah menjadi kumpulan puisi dalam hati.
Dan oleh karena itu,
diary kecilku ini akan selalu mengabadikan kamu.
Berharap suatu hari kamu mampir untuk membaca.
Lalu menimbulkan sedikit lagi nada di sela-sela hati kita.

Ya..
Suatu hari..
Kata akan diiringi menjadi sebuah prosa lagi.
Sebuah prosa yg diiringi nada.
Yang akan kita lantunkan secara ceria, 
layaknya dulu kala.

Hingga pada akhirnya, 
cerita kita abadi, pada hati para pembaca setianya.


Senin, 31 Agustus 2015

Ia Tidak Pernah Tahu

Ia Tidak Pernah Tahu

Oleh Mbeer


Ia tidak pernah tau, 
tangan yg ia genggam sekarang, 
dulu pernah menggegam tanganku erat 
dan memohon agar tidak pernah dilepaskan.

Ia tidak pernah tau, 
tubuh yg tengah ia idolakan, 
dulu pernah jengah melahap tubuhku 
dan memeluknya habis-habisan.

Ia tidak pernah tau, 
kening tempat kecupnya berpulang sekarang, 
dulu ia pernah meminta-minta 
agar aku menciumnya secara perlahan.

Ia tidak pernah tau, 
rambut yg dengan lembut ia belai sekarang, 
dulu pernah menjamah tanganku, 
meminta mengelusnya seraya mengucapkan 
“tetaplah seperti itu, hingga nanti aku tertidur”.

Ia tidak pernah tau, 
senyum yg sekarang bagai penyemangat paginya itu, 
dulu pernah mencium senyumku, 
dan setelah itu kita berdua tersenyum.

Ia tidak pernah tau, 
cinta yg sekarang ia pamerkan, 
dulu pernah meronta memintaku untuk tinggal.

Dan ia tidak pernah tau. 
Bahwa hingga kini aku tetap mencintainya sebesar itu.




Aku Benci Dengan Perpisahan

"Why did this happen to me?..."

Cuma bisa duduk lemas dengan tatapan mata yang kosong. Dunia seakan kejam, kehidupan seakan tega. Semuanya kejam! Cuma bisa memaki dalam hati. "Aku benci perpisahan!" kenapa harus ada perpisahan di dunia ini? Hidup seakan kosong, seakan semuanya hilang. terbang begitu saja dari kehidupan ini. Pikiran amburadul, kacau, seakan mau pecah kepala!

Berbeda dengan diriku, dirinya terlihat enjoy dan tenang-tenang saja dengan perpisahan ini. Bahagiakah dirinya dengan semua ini? dengan perpisahan ini? 
Aku berpikir dia sudah berubah, tidak seperti dulu. Namun sekarang aku baru sadar, dia tidak berubah. Tapi itulah diri dia yang sebenarnya selama ini.

Kenapa harus ada "Selamat" dikalimat "Selamat Tinggal'? Bukankah yang namanya ditinggalkan dan meninggalkan itu menyakitkan? Meninggalkan orang yang disayang atau bahkan ditinggalkan orang yang disayang. Sama seperti aku yang membenci perpisahan.

Melupakan semua kenangan, kebersamaan dan memori yang sudah dibangun selama bertahun-tahun. Mudah baginya namun sulit bagiku. Tapi aku akan mencoba menjadi seperti dia yang dengan mudahnya melupakan semuanya tentang kita. 





Minggu, 30 Agustus 2015

Dibalik Tegarnya Aku



Dibalik Tegarnya Aku

Oleh Mbeeer


Untuk kamu
Yang merasa aku baik-baik saja tanpamu

Kamu tahu?
Dibalik diriku yang selalu memujamu
Ada diriku yang selalu berdoa rintih sebelum tidur
Agar aku bisa kembali dipertemukan lagi denganmu
Walau hanya sekelebat waktu

Dibalik setiap sajak sendu yang aku tuliskan disini
Ada diriku yang selalu melawan perihnya rasa disetiap kata
Yang menemani jari jemari menari diatas pena

Dibalik jiwaku yang kerap kali terlihat sangat mengagumi hujan
Ada diriku yang selalu menanti pertemuan dengan dirimu
Walau saat itu aku harus berjibaku dibawah teriknya sinar matahari siang itu

Dibalik hinanya aku dihadapanmu
Ada diriku yang tak pernah memandang negatif sedikitpun ke arahmu
Dibalik caci makian yang mereka lontarkan kepadaku
Ada diriku yang selalu berdiri bermimpi
kamu mendukungku

Dibelakang semua nasihat perihal rindu yang mereka tanyakan padaku
Ada aku yang tak pernah bisa sedikitpun menasihati diriku sendiri
agar aku bisa berhenti mencintai kamu

Dibalik setiap surat cinta yang pernah aku tulisi
Ada hal tentang kamu terselip pada beberapa kalimat sendu
Dan dibalik semua rinduku
Ada aku yang menangis

Meminta kita yang dulu..











Senin, 01 Juni 2015

Tuhan, Apakah Engkau Sedang Membentukku Menjadi Seseorang yang Kuat?


Masih bertanya dalam hati terdalam, kenapa aku bisa diuji sampai seperti ini. Sudah banyak rasa sakit, kecewa, sedih, terpuruk dan terluka yang aku terima. Berbanding terbalik dengan kebahagiaan yang aku terima. Tidak ada yang ingin mengalami sepertiku, diterjang rasa sakit yang begitu hebatnya. Tidak ada yang mau berada di posisiku. Sejujurnya aku lelah diterpa rasa sakit yang begitu hebatnya. 


Aku ingin teriak agar mereka yang menyakitiku tahu bahwa aku tersakiti olehnya, tapi aku rasa mereka yang menyakitiku tidak akan pernah peduli kepadaku sedikitpun. Namun, aku mau tidak mau, suka tidak suka harus menelan bulat-bulat rasa sakit itu. Terbesit didalam pikiranku apakah Tuhan sedang membentukku menjadi seseorang yang tangguh, kuat dan lebih sabar? Ibarat seperti bongkahan berlian yang diasah, dibentuk sedemikian rupa sehingga menjadi bentuk yang indah dan berkilau dan berlian adalah salah satu dari benda terkuat di muka bumi. Jika memang tuhan sedang membentukku menjadi seseorang yang kuat, tangguh, dan sabar maka tolong kuatkanlah aku dalam menerima dan menghadapi rasa sakit.

Senin, 02 Februari 2015

Terima kasih masalah


Terima kasih masalah, berkat engkau, aku belajar apa arti kedewasaan .
Terima kasih masalah, berkat engkau aku belajar bersikap lebih baik.
Terima kasih masalah, berkat engkau, aku belajar untuk tidak tergesa-gesa.
Terima kasih masalah, berkat engkau, aku akhirnya dapat mengetahui  hati, sikap dan perasaan orang-orang yang selama ini aku anggap baik kepadaku.
Terima kasih sudah menunjukkan kepadaku mana orang-orang yang peduli kepadaku dan mana orang-orang yang hanya berpura-pura baik dan peduli kepadaku.

Aku dapat menilai orang-orang yang selama ini aku anggap baik, peduli, perhatian kepadaku.
Terima kasih masalah, berkat engkau, semua topeng orang-orang  yang aku anggap baik, peduli dan perhatian dapat terlepas dan menunjukkan wajah asli dari dirinya yang dahulu aku anggap luar biasa.
Tidak aku sangka, bahwa orang-orang yang selama ini aku anggap baik, peduli dan perhatian kepadaku ternyata memiliki diri asli yang  berbeda seperti yang aku nilai sebelumnya.

Orang-orang yang selama ini peduli kepadaku, ternyata tidak benar-benar peduli kepadaku.
Orang-orang yang selama ini baik kepadaku, ternyata tidak benar-benar baik kepadaku.
Orang-orang yang selama ini perhatian kepadaku, ternyata tidak benar-benar perhatian kepadaku.


Hai kamu orang-orang yang demikian, tidak perlu kalian memakai topeng itu lagi didepanku, buanglah topeng itu, karena aku sudah tahu bagaimana diri kalian yang sebenarnya. J